Setelah Hak Angket Lalu Hak Menyatakan Pendapat?

Seorang kawan yang suka berkomentar sinis tentang kinerja DPR dan Pemerintah berkata lantang: “Ya, kalau DPR itu jantan, di-IMPEACH saja tu pak BOEDIONO, dan tekan presiden SBY agar mau menurunkan bu SRI MULYANI dari jabatannya.”

Terkesan sangat emosional, namun ada benarnya juga. Ini kan HAK ANGKET? Hak penyelidikan! Bukan lagi INTERPELASI yang menginginkan sekedar jawaban. Hasilnyapun sudah terang benderang dan diketahui publik. Melalui VOTING yang cukup alot, RAPAT PARIPURNA DPR memutuskan: ada kesalahan dalam kebijaksanaan penyelamatan dan bailout BANK CENTURY. Meskipun tidak menyebut nama, publik juga tahu pejabat yang dianggap paling bertanggung jawab adalah Menkeu SRI MULYANI mantan Gubernur BI BOEDIONO.

foto detikcomApakah DPR akan berhenti pada titik ini? Publik pasti sepaham, bahwa HAK ANGKET yang menyedot puluhan milyar uang rakyat, terasa terlalu mewah, jika hanya menelorkan REKOMENDASI HUKUM bagi pemerntah dan institusi terkait. Sebuah rekomendasi yang sebenarnya dapat dilakukan DPR tanpa melakukan HAK ANGKET.

Justru saya merasa heran, mengapa RAPAT PARIPURNA secara tegas tidak merekomendasikan untuk menindak lanjuti keputusan DPR, atas adanya kesalahan kebijaksanaan pemerintah terkait penyelamatan dan bailout BANK CENTURY, dengan menggelar HAK MENYATAKAN PENDAPAT? Suatu rekomendasi logis atas kesimpulan dari pelaksanaan HAK ANGKET.

Memang pelaksanaan HAK MENYATAKAN PENDAPAT ini dapat mengarah kepada upaya PEMAKZULAN Wapres BOEDIONO dan bahkan Presiden SBY. Hal yang pasti akan ditentang habis-habisan terutama oleh. PARTAI DEMOKRAT. Namun bukankah ini merupakan konsekuensi logis dilakukannya HAK ANGKET yang lantas diperdalam dengan menggelar HAK MENYATAKAN PENDAPAT?

Kalaupun nantinya HAK ANGKET dan HAK MENYATAKAN PENDAPAT bermuara pada PEMAKZULAN terhadap Wapres BOEDIONO dan atau Presiden SBY, lebih baik itu dilakukan sekarang daripada merongrong mereka sepanjang masa pemerintahannya. Atau menggantung kasusnya dan menjadikan mereka sebagai SANDRA POLITIK, untuk permainan POLITIK DAGANG SAPI.

Jika tidak berani, ya tidak usah gagah-gagahan melakukan HAK ANGKET segala!

Foto dukumentasi detikcom

2 responses to “Setelah Hak Angket Lalu Hak Menyatakan Pendapat?

  1. Salam kenal.

    Mas Eko menurut saya, politik adalah kepentingan. Kalau dirasa penting mereka akatn ke sana juga dengan cara apa pun. Sedangkan apa kepentingannya, mereka sendiri yang tahu.

    Sebagai rakyat biasa seperti Anda, terus terang saya belum bisa melihat gerakan-gerakan politik semacam ini berdaya guna buat rakyat. Karena yang korup bukan lagi orang tapi sistemnya. Saya masih ingat dulu ketika pak Kwik Kian Gie pada akhirnya tidak bisa apa2 sebagai ketua Bappenas, bukan karena beliau tidak kompeten tapi tidak didukung oleh sistem yang kondusif di sekelilingnya.

    Mungkin kalau para pejabat sudah mau naik angkot ke kantor mereka, dan menganggap jabatan sebagai amanah rakyat dan bukannya kekuasaan, Indonesia bisa berubah? Kalau tidak begitu, hmmmm…… cape deh.

  2. Betul, lebih baik hari-hari ini menonton liputan upaya penggulingan di Mesir.
    Kenapa rakyat disini yang sudah sangat susah masih diem dan mau menerima dan enggak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi apa yang dipunyai pemerintah sekarang dong? Hebat ya.

    Sebaiknya media jangan membesar-besarkan evakuasi, toh itu niatnya jauh lebih banyak untuk PENCITRAAN. Jangan menyenangkan pemerintah, sebab mereka sudah senang dan makmur, gaji dan tunjangan mereka jauh dari cukup. Buktinya Megawati bilang gaji dia dulu cukup dan malah lebih, katanya sambil nyengar-nyengir toh. Lebih baik menyenangkan rakyat dengan memberi mereka uang dan makan cukup dengan pengawasan yang baik sehingga uang dan raskin benar-benar sampai ke tangan mereka.

    Mesir sama dengan Indonesia, Indonesia tak lebih dari Mesir, Sama saja, 30 tahun berkuasa bukan lagi ukurannya. Ukurannya adalah apakah mampu mengelola negara dan memakmurkan rakyat secara merata atau enggak.

    Kalau kita lihat GDP Mesir dengan Indonesia, mana lebih banyak dong. Kalau kita lihat jumlah penduduknya, mana yang lebih sejahtera, Mesir atau Indonesia. Kalau kita lihat pembangunan sarana publik, mana yang lebih masif, Mesir atau Indonesia? Atau sama saja. Kalau sama saja, lalu gimana dong setelah melihat di Mesir.

    Itu cara melihat. Itu dari satu sisi, belum yang lain-lain. Indonesia sebenarnya memiliki penduduk meskin lebih banyak, tapi tidak dikatakan.

    Perekonomian katanya membaik, tapi rakyat di negeri kita buktinya banyak yang susah. Mereka banyak yang melarat, terpaksa jadi pemulung, jadi apa saja asal bisa makan, pemeritah enggak pernah membantu mereka kok. Mereka terpaksa cari makan sendiri-sendiri. Sementara orang-orang di eksekutif dan legislatif dan yudikatif hanya main sandiwara, mereka kaya-kaya. Rakyat menerima terus nasib buruknya. Kenapa rakyat susah itu masih mau menerima dan enggak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi penenang apa yang dilakukan pemerintah sekarang kepada rakyatnya sehingga seakan-akan mereka menerima terus. Rakyat itu padahal banyak yang sudah enggak bisa makan, tidak punya daya beli, tapi diem saja. Sementara harga sembako tidak terjangkau lagi, naik tinggi dan pemerintah membiarkan semuanya mahal. Pengangguran makin banyak.

    Lihat, di jalan-jalan dan di bus-bus, mereka berjubel, semua susah. Sementara yang kaya main kaya. Ini bukan soal berkuasa 30 tahun atau baru 6 tahun. Ini soal kemampuan mengeloal negara. Bagaimana negara bisa menghidupi kalau enggak punya sumber penghasilan, negara enggak punya pabrik, hanya punya satu sumber pendapatan, narikin pajak doang. Apa enggak masuk jurang? Harga sembako tinggi lho kalau dibandingkan di negara-negara lain dari segi penghasilan rata2 masyarakat masing-amsing. Lalu di negeri kita orang Indonesia, lapangan pekerjaan untuk rakyat enggak ada. Mereka petani juga enggak punya sawah, mereka nelayan tidak punya perahu, punyanya hanya motor ojek, lalu ke kota-kota, ngojek. Uang yang didapat enggak ada nilainya. Beda dengan masa Megawati dan sebelumnya. Uang Rp 20 – 50 ribu saja nilainya masih agak lumayan, bisa membeli banyak barang. Sekarang enggak ada. Mereka makin susah sekarang, tidak bisa makan.

    Liputan sebaiknya jangan membesar-besarkan evakuasi. Tujuan dan niat pemerintah lebih banyak untuk PENCITRAAN. Sebetulnya kawan-kawan kita di Mesir tidak menginginkan evakuasi sebab mereka semua MUSLIM bukan BULE lagi jadi teman-teman itu aman kok. Lihat, teman-teman kita di Mesir itu gemuk-gemuk lagi, tanda mereka lebih makmur dari anda-anda di Indonesia. Nanti kawan-kawan kita kalau mau kembali ke Mesir lagi emangnya gratis semua? Siapa yang akan membiayai semuanya? Apa teman-teman kita setelah sampai di Indonesia bisa kembali ke Mesir naik pesawat lagi gratis? Sekarang katanya mereka di Mesir kurang makanan, seperti yang diakui kawan dari Gontor yang disiaran tadi petang oleh sebuah TV, langsung dari Mesir. Bukannya pemerintah SBY kini sudah menganggarkan uang banyak untuk itu semua itu? Untuk evakuasi dll. Kemana sebagian perginya dana itu? Masih ada juga yang suka menyunat atau mem-markup anggaran ya? Ah kau. Transparan dong.

    Jadi dirinci ke publik, semua dana untuk misi evakuasi dan lain-lain itu, berapa untuk kedutaan besar, dan berapa untuk kementerian luar negeri Indonesia sendiri, adakah dan berapa uang saku untuk ongkos pulang kawan-kawan kita ke daerah masing-masing, sebab tidak semuanya tinggal sekitar Jakarta. Sebenarnya, mulanya mereka ingin tetap di Mesir, karena kata mereka bahwa mereka kebanyakan akan ada ujian untuk Masters degree mereka dan ada juga yang untuk ujian S1 mereka, ada yang akan ujian untuk PhD mereka, tapi kacau mereka dibujuk, untuk enggak bilang “dipaksa” pulang, dengan janji-janji nanti ketika kembali lagi ke Mesir semuanya gratis. Jangan mereka dijadikan alat pencitraan.
    Kalau benar-benar niat evakuasi, seperti Malaysia dong, mengirim banyak pesawat militer Hercules, lesehan, tidak memanjakan. Malaysia juga sudah mengirim kapal perangnya untuk evakuasi lebih serius, memuat lebih banyak penumpang, lebih aman lagi. Kita memang dangkal enggak bisa mikir dalam, dalam segala bidang. Malu ah sama Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s