Demo Harus Rusuh?

Pada era reformasi, DEMO merupakan aksi yang biasa dilakukan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Karena terlalu sering, boleh jadi masyarakat menjadi bersikap apatis serta cuek. Bahkan pihak yang didemopun tak lagi menganggapnya sebagai hal yang istimewa dan perlu ditanggapi secara serius. Mungkin untuk mendapatkan kembali perhatian masyarakat dan media, mereka memandang perlu bertindak anarki dan tindakan tak terpuji lainnya, misal pemblokiran jalan, membakar ban dan penyanderaan.

Sebenarnya, sekarang aparat keamanan sudah lebih permisif terhadap aksi-aksi UNJUK RASA, dibandingkan saat rezim ORDE BARU berkuasa. Namun sebaliknya pelaku DEMO, enggan memahami tugas aparat untuk mengamankan lokasi dan aksi itu sendiri. Apa sih susahnya melakukan DEMO yang tertib di area yang telah ditetapkan untuk mereka?

foto detiknewsMengapa mereka justru memaksakan diri memasuki area yang diamankan aparat sehingga memicu terjadinya benturan-benturan fisik?

Seperti yang terjadi di depan gedung DPR/MPR tanggal 2 maret kemarin. Mengapa mereka tidak berorasi sekeras-kerasnya menyampaikan aspirasi dan dukungannya terhadap anggota DPR yang sedang mengadakan RAPAT PARIPURNA HAK ANGKET SKANDAL BANK CENTURY? SEGEROMBOLAN PENDEMO justru lebih tertarik untuk berusaha menerobos barikade polisi, dalam upaya memasuki halaman gedung DPR. Bukan hanya itu, mereka juga berusaha merobohkan pagar, dengan menarik menggunakan mobil, yang konon adalah milik Egy Sudjana. Lebih parah lagi, ketika dihalang-halangi aparat, mereka justru menyerang polisi menggunakan batu dan bambu. Merekapun tak segan merusak fasilitas umum yang mereka jumpai.

Melihat ulah mereka yang kasar tak heran kalau ada yang menganggap mereka itu bukan DEMONSTRAN, melainkan GEROMBOLAN ORANG yang tak jelas tujuannya, kecuali untuk berlaku kasar layaknya preman. Yang menganggap DEMO adalah ajang yang legal untuk mengeksresikan kekerasan. Meskipun mereka mungkin menggunakan jaket atau atribut sebuah universitas, yang menandakan mereka adalah insan intelek yang berpendidikan.

Patut diduga pula bahwa, sejak awal aksi memang tidak dirancang untuk menyuarakan aspirasi atau dukungan secara santun dan bermartabat. Namun sejak awal aksi memang dirancang untuk menciptakan kerusuhan atau kalau perlu keadaan chaos.

Lantas apakah aksi-aksi anarki seperti itu masih layak dianggap sebagai bagian dari DEMOKRASI yang dilindungi Undang-undang?

Foto doc. detiknews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s