Memanfaatkan “Artalyta”

Mungkin rumah tahanan dapat memanfaatkan keberadaan ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain untuk mendapatkan dana guna menutup kekurangan jatah anggaran dari Pemerintah. Caranya, ijinkan mereka menciptakan sel mewahnya, dengan membayar bea resmi tertentu.

foto detiknewsBOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Dalam sidak beberapa hari yang lalu, TIM PEMBERANTASAN MAFIA HUKUM menemukan sebuah ironi di dalam RUTAN PONDOK BAMBU. Tim menemukan Artalyta Suryani, terpidana kasus penyuapan Jaksa Urip, menempati sebuah sel mewah dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Sementara para narapidana wanita lainnya harus berjubel di dalam sel-sel yang over kapasitas tanpa fasilitas yang memadai, apalagi manusiawi. Dan boleh jadi yang terakhir ini merupakan realitas di sebagian besar rumah tahanan lainnya.

Minimnya kucuran anggaran dari Pemerintah, merupakan alasan yang masuk akal, mengapa RUTAN tidak dapat menyediakan tempat dan fasilitas yang layak dan manusiwi.

Bagi kebanyakan narapidana, mau tak mau mereka harus menerima kenyataan ini. Namun bagi para tahanan elite, seperti ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain, keadaan ini masih sulit diterima. Kenyataan bahwa mereka berada di dalam penjarapun merupakan pukulan yang sangat menyakitkan. Apalagi kalau mereka harus menempati sel yang jauh dari layak dan meninggalkan semua kemewahan yang mereka nikmati sebelumnya.

Tak heran kalau Artalyta dan narapidana elite lainnya, merenovasi selnya sendiri agar lebih layak bagi mereka. Untuk itu mereka bukan hanya harus merogoh kantung sendiri untuk sedikit kemewahan itu. Patut diduga, mereka juga harus membayar sejumlah uang tertentu kepada petugas dan pejabat RUTAN, yang tentu saja akan masuk ke kantong pribadi. Dan praktek suap semacam ini, menurut beberapa orang yang pernah berurusan dengan RUTAN, baik si narapidana atau keluarganya, adalah hal biasa.

Jadi, mengapa penyediaan sel dan fasilitas khusus ini, tidak dijadikan sebagai LAYANAN RESMI RUTAN? Tentu dengan membayar bea tertentu yang masuk ke KAS RUTAN, bukan ke kantong pribadi oknum petugas dan pejabatnya.

Tentu saja pengadaan fasilitas mewah itu tetap menjadi tanggung-jawab si narapidana elite itu. Mereka juga harus membayar bea tertentu, misal Rp 200.000 per hari atau per item fasilitas mewah per hari, yang merupakan bea resmi.

Bayangkan, berapa rupiah yang dapat diperoleh, dan bisa dipergunakan untuk menambal kekurangan anggaran dari Pemerintah. Jika Artalyta harus membayar Rp 200.000 per hari, setahun dia harus membayar Rp 73.000.000. Hasilnya, tinggal dikalikan dengan banyaknya narapidana elite yang bersedia membayar, dan berapa tahun dia mendekam di sana.

Jangan khawatir RUTAN akan kehabisan narapidana elite. Karena jika semua Institusi Penegak Hukum bekerja secara profesional dan pantang disuap, sepertinya akan banyak PENJAHAT ELITE yang dapat mereka jebloskan ke RUTAN!

Sebuah IDE GILA yang layak dicoba?

2 responses to “Memanfaatkan “Artalyta”

  1. Ide yang bagus, tapi sepertinya yang “sembunyi-sembunyi” itu yang asyik. Jadi bakalan ditentang ama yang selama ini menikmatinya.

  2. Setuju, cuma setelah semua kamar penjara diperbaiki atau bekas Artalyta-Artalyta, maka mungkin banyak orang (terutama yang kesulitan dapat pekerjaan dan boleh dikata putus harapan) akan berlomba-lomba masuk penjara.hehehe…makan gratis tidur di kamar mewah.

    Eko Deto: meskipun terpasung kebebasannya? ah! mungkin nanti ada juga fasilitas ijin keluar sekian jam perhari! siapa tahu kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s