“Solidaritas” Bla…Bla…Bla…

Jika solidaritas Umat Islam sedunia sedemikian besar, seperti yang ditunjukkan aksi akbar puluhan ribu kader dan simpatisan PKS serta beberapa ormas lainnya di berbagai kota, mengapa penderitaan RAKYAT PALESTINA seperti tak berujung?

foto detikcomBagi saya jawabannya cukup sederhana: gempita AKSI SOLIDARITAS tersebut tidak pernah menyentuh secara langsung kepentingan RAKYAT PALESTINA. Bahkan kemungkinan mereka tak pernah sadar atas keberadaan aksi-aksi tersebut.

Pada sisi lain, AKSI SOLIDARITAS itu sendiri bersifat temporer dan tidak berkelanjutan. Ketika tindakan keras militer ISRAEL terhadap warga PALESTINA yang dipicu beragam persoalan, telah keluar dari fokus bidikan jurnalis dunia dan lokal, AKSI SOLIDARITAS kepada merekapun surut hingga tak berbekas.

Tentu saja saya tidak berani berkata, tidak ada seseorang atau sekelompok orang dan organisasi yang secara konsisten menunjukkan kepeduliannya terhadap penderitaan RAKYAT PALESTINA. Saya yakin pasti ada. Namun justru karena keiklasan mereka dalam berbuat, mereka melakukannya langsung ke sasaran tanpa gembar-gembor, sehingga tak banyak orang yang tahu. Bahkan media masa sekalipun mungkin tak tahu. Tetapi saya juga yakin jumlah mereka tidak banyak.

Yang lebih banyak jumlahnya tentu mereka yang keras-keras bicara soal SOLIDARITAS, di sini, namun tak pernah kemana-mana. Tak pernah melakukan upaya langsung yang benar-benar membantu. Kecuali mengerahkan anggota dan simpatisan, dengan segala macam IDENTITAS dan ATRIBUT ORGANISASI yang mencolok, memadati jalanan serta memacetkan lalulintas. Nah apakah PKS dan beberapa ormas lainnya, dengan AKSI SOLIDARITAS yang mereka lakukan termasuk golongan terakhir ini?

Foto documentasi detikcom

Kesan Saya Tentang SUSNO DUADJI

Dari cara memandang dan bagaimana beliau bicara, saya mempunyai kesan negatif tentang mantan KABARESKRIM KOMJEN SUSNO DUADJI. Bahkan keberanian beliau untuk mengungkap aib di dalam tubuh MABES POLRI, belum mampu mengubah persepsi saya tentang beliau.

foto Media Indonesia

Tentu saja saya tidak benar-benar mengenal KOMJEN SUSNO DUADJI, mantan KABARESKRIM yang di-NONJOB-kan, paska kasus rekayasa kriminalisasi KPK. Tahu beliaupun setelah wajahnya sering muncul di TV usai pernyataannya tentang CICAK melawan BUAYA.

Namun dari cara beliau bicara dan memandang saat berbicara pada berbagai kesempatan di TV, saya menangkap kesan negatif tentang beliau. Dalam pandangan saya, beliau terkesan tidak natural, tidak jujur dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Kadang saya menangkap sikap sinis dan meremehkan orang atau pihak lain. Hal ini nampak semakin jelas dari manuver-manuver beliau paska dicopot jabatannya sebagai KABARESKRIM, tanpa mutasi atau promosi.

Sekarang ini, ketika SUSNO DUADJI memanaskan institusi tempatnya puluhan tahun mengabdi, dengan isue adanya MARKUS, yang melibatkan sekurang-kurangnya dua orang Jendral POLRI, kesan saya tentang beliau tetap sama.

Tentu saja saya puji keberanian beliau mengambil resiko besar untuk mengungkap adanya kebusukan dalam tubuh POLRI, yang tidak hanya melibatkan polisi rendahan. Namun tindakan beliau terkesan POLITIS banget, dan ada upaya tarik ulur dengan petinggi POLRI lainnya. Tak heran kalau saya, dan mungkin anda, bertannya-tanya: ADA APA INI?

Akan saya tunggu akhir dari penyelesaian kasus SUSNO DUADJI VS POLRI ini. Apakah nantinya dapat mengubah kesan saya tentang sosok beliau? Atau justru makin mempertegas persepsi negatif saya tentang beliau?

Foto dokumentasi Media Indonesia

OBAMA Batal Datang Siapa Kecewa?

Obama batal berkunjung ke Indonesia, beberapa pihak dipastikan kecewa. Bukan hanya yang akan menyambut kedatangan beliau dengan tangan terbuka, tetapi juga mereka yang menantikan dengan tangan terkepal.

foto detikcomPada breaking news RCTI pukul 12:42 wib, reporter Putra Nababan langsung dari Washinton DC mengabarkan: PRESIDEN OBAMA batal berkunjung ke Indonesia, yang dijadwalkan hari selasa lusa. Menurut juru bicara presiden, OBAMA terpaksa membatalkan kunjungan karena harus konsentrasi menyelesaikan pengesahan RUU REFORMASI KESEHATAN, yang konon berjalan alot.

Beberapa pihak meragukan kebenaran alasan pembatalan kunjungan seperti tersebut di atas, dan berpendapat masalah keamanan boleh jadi merupakan penyebab utamanya.

Terlepas dari kontroversi penyebab sebenarnya dari pembatalan kunjungan itu, beberapa pihak dipastikan sangat kecewa dengan keputusan Pemerintah AS tersebut

Para murid dan guru di sekolah tempat OBAMA sekolahan di masa kecilnya dulu, pasti sangat kecewa karena sudah mati-matian mempersiapkan acara penyambutan.

Beberapa elemen masa yang akan berdemonstrasi, terutama Forum Umat Islam ataupun Hizbut Tahrir Indonesia, juga pasti sangat kecewa, karena kehilangan kesempatan untuk meluapkan kebencian mereka terhadap pemerintah dan negeri adidaya, yang mereka anggap telah mendzolimi umat Islam di beberapa negara. Padahal energi kebencian itu telah mereka pupuk dan mampatkan selama beberapa hari terakhir ini, hingga siap diledakkan di hari yang bersejarah itu. Namun akhirnya mereka harus kehilangan momen untuk melepaskan energi kebencian itu. Merekapun kehilangan panggung akbar sebagai ajang untuk menunjukkan atau menonjolkan eksistensi organisasi dan pemuasan ego. Semoga saja tak menjadi bisul yang siap pecah setiap waktu dan menebarkan bau busuk.

Namun berbahagialah aparat keamanan yang mungkin tidak perlu berhadap-hadapan dengan para demonstran, yang seperti biasanya akan bertindak kasar dan tidak simpatik.

Foto dokumentasi detikcom

Beraninya SUSNO DUADJI!

Jika SUSNO DUADJI yang berkata, bahwa di tubuh BARESKRIM atau MABES POLRI ada MARKUS, kemungkinan besar hal tersebut memang benar! Banyak yang dipertaruhkan beliau jika pernyataannya hanya omong kosong saja.

foto detikcomJual beli kasus di tingkat terbawah jajaran POLRI sudah bukan menjadi rahasia lagi. Beberapa tahun yang lalu, seorang tetangga harus berjibaku dengan waktu, mengumpulkan uang untuk mengeluarkan anaknya yang ditahan di sebuah POLSEK, karena terlibat pencurian kecil bersama geng remajanya. Meskipun tahu perbuatan anaknya salah, sebagai orang tua tetap saja tidak tega anaknya ditahan dan diproses lebih lanjut. Apalagi dia masih sekolah.

Jika kong-kalikong kasus yang hanya melibatkan uang ratusan ribu sampai belasan juta saja bisa atau biasa terjadi ditingkat pos polisi atau polsek, bagaimana kita tidak akan percaya jika hal serupa yang melibatkan uang ratusan juta sampai milyaran rupiah, bisa terjadi di jajaran tertinggi POLRI? Apalagi yang mengungkapkan adanya praktek MARKUS itu bukan orang sembarangan.

Dia adalah KOMJEN SUSNO DUADJI, mantan KABARESKRIM POLRI yang di-nonjob-kan paska berakhirnya drama cicak vs buaya. Pada beberapa media beliau mengungkapkan aksi MARKUS pada kasus yang melibatkan pejabat pajak sebesar 25 milyar, yang menyusut menjadi hanya 400 juta setelah ditangani POLRI. Konon kasus ini melibatkan 3 pejabat tinggi POLRI.

Sebuah kecerobohan yang tak termaafkan jika pak Susno hanya menduga-duga tanpa dapat menunjukkan bukti, atau petunjuk awal yang dapat dijadikan titik mula penyelidikan kasus ini. Namun karena besarnya resiko yang yang mesti beliau tanggung, bolehlah kita anggap pernyataan beliau benar.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu, apa yang memotivasi SUSNO DUADJI mengungkapkan adanya MARKUS di jajaran tertinggi POLRI ini. Entah karena dendam dan merasa disingkirkan atau memang karena dorongan nurani untuk mengungkap borok di tubuh institusi tempatnya mengabdi. Namun, sekali lagi, karena besarnya resiko yang mesti beliau tanggung, kita wajib mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

Harapan kita, mantan KABARESKRIM ini benar-benar bersih seperti yang selalu beliau katakan, sehingga tak ada konflik kepentingan dalam penyelidikan kasus memalukan ini. Karena bagaimanapun kasus MARKUS yang melibatkan uang puluhan milyar rupiah, mustahil jika tidak menyentuh pejabat tinggi POLRI.

Kita berharap pula, KAPOLRI dan segenap jajaran petinggi lainnya, serius dan jujur dalam mengungkap kasus ini. Jangan lagi melakukan manuver-manuver konyol yang justru akan membunuh karakter institusi POLRI secara keseluruhan.

Foto dokumentasi detikcom

Anggota DPR Kehilangan Fokus?

Karena terlalu mengedepankan strategi konfrontatif, dikawatirkan beberapa anggota DPR dapat kehilangan fokus, dan bergerak seperti orang mabok! Mabok kekuasaan!

Tentu saja anggota dewan yang konsen terhadap keputusan DPR tentang SKANDAL CENTURY layak kecewa jika Pemerintah dan KPK tidak menindak lanjuti rekomendasi hukum yang telah mereka serahkan. Namun rasa kecewa ini hendaknya tidak diekspresikan dalam bentuk tekanan-tekanan dan intervensi yang berlebihan, karena bisa kontraproduktif.

Seperti yang dinyatakan seorang politisi Partai GOLKAR, Bambang Soesatyo, belakangan ini. Setelah masa reses berakhir. dia mengancam akan menggalang dukungan dari anggota dewan lainnya, agar DPR menggunakan HAK BUTGETING untuk memotong jatah anggaran buat KPK, jika institusi ini dianggap terlalu lamban dalam menangani kasus SKANDAL CENTURY, sesuai rekomendasi yang telah disampaikan kepada Pemerintah. Wacana pemotongan anggaran ini nampaknya direspon positif oleh beberapa politisi, kecuali dari Partai DEMOKRAT tentunya.

Dalam hal ini saya sependapat dengan PD dan pengamat lain. Ancaman pemotongan anggaran ini merupakan bentuk intervensi yang tidak pada tempatnya, karena pada derajad tertentu justru dapat mengganggu kinerja KPK secara keseluruhan.

Memang benar DPR atau anggota dewan berhak memonitor kinerja KPK terkait pengusutan SKANDAL CENTURY. Namun ada baiknya mereka tidak mencampuri terlalu dalam proses hukum yang sedang berjalan. Apalagi sampai main ancam segala!

Saya pikir seharusnya DPR atau anggota dewan lebih fokus pada tindakan politik yang menjadi domain permainannya. Bukankah HAK ANGKET itu, selain untuk mengungkap kebenaran, juga dilakukan untuk tujuan politik tertentu? Bukankah seharusnya mereka lebih fokus pada rekomendasi politik, yang seharusnya merupakan bagian utama dari keputusan RAPAT PARIPURNA DPR tanggal 3 maret 2010 yang lalu? Bukankah semestinya rekomendasi hukum hanya merupakan hasil sampingan dari HAK ANGKET CENTURY, sebagai konsekuensi ditemukannya indikasi terjadinya tindak pidana?

Jadi kalau ingin bermain, banyak hal yang dapat dilakukan anggota dewan di panggung politik. Mulai dari wacana penonaktifan dan pemecatan MENKEU SRI MULYANI hingga pemboikotan kehadiran beliau pada rapat DPR besok tanggal 9 maret 2010 untuk membahas RAPBN PERUBAHAN. Atau wacana melakukan HAK MENYATAKAN PENDAPAT yang dapat menggelinding liar hingga mengarah ke upaya PEMAKZULAN terhadap WAPRES BOEDIONO dan PRESIDEN SBY. Meskipun tidak mudah, pintu ke arah itu terbuka lebar. Bukankah dalam pidatonya menanggapi keputusan DPR atas pelaksanaan HAK ANGKET CENTURY, SBY terang-terangan menyatakan kebijakan penyelamatan BANK CENTURY sudah benar dan akan bertanggung jawab? Bukankah pernyataan tersebut dapat dianggap sebagai sikap mengabaikan keputusan politik DPR?

Mungkin para anggota dewan YANG GATAL lebih layak bermanuver di ranah ini, daripada ngrecokin proses hukum yang sedang berjalan, secara arogan. Namun apakah langkah politik sejauh itu benar-benar perlu dilakukan? Semua tergantung pada pertimbangan dan nurani mereka. Yang pasti mereka harus senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan pribadi, golongan dan partai.

Menyambut Obama Dengan “Diam”

Pasti ada cara lain untuk mengekspresikan rasa tidak suka kepada OBAMA. Namun kalah populer dibanding aksi demonstrasi.

Jelang kunjungan kenegaraan OBAMA, beberapa elemen masyarakat telah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi. Tak terkecuali Forum Umat Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia yang telah melakukan pemanasan dengan menyebarkan panflet, spanduk dan materi cetak lainnya, yang jelas menunjukkan rasa tidak suka kepada Presiden negeri adidaya tersebut.

Syah-syah saja mereka berunjuk rasa menolak kehadiran OBAMA. Di era demokrasi ini masyarakat mempunyai hak untuk mengeksresikan rasa tidak suka, teristimewa kepada tokoh yang mereka anggap paling bertanggung jawab atas perlakuan buruk Pemerintah AS terhadap Umat Islam dibeberapa negara, misalnya di Afghanistan Irak dan Palestina.

Namun apakah aksi-aksi semacam ini dapat menarik perhatian Presiden AS dan membuat beliau berpikir untuk mengubah kebijaksanaan negeri adidaya itu, agar lebih ramah terhadap umat Islam di ketiga negara tersebut di atas?

Semua tahu hal itu sangat mustahil. Bahkan untuk mendekati rombongan OBAMA saja tidak akan bisa. Kalau memaksakan diri, ujung-ujungnya malah bentrok dengan aparat, yang justru lebih menarik perhatian media masa untuk mengeksploitasi kejadian memalukan itu. Apakah ini yang sebenarnya menjadi tujuan utama aksi tersebut?

Mengapa tidak kita cuekin saja kedatangan OBAMA? Tidak ada demonstrasi! Tidak ada caci maki. Tidak ada pembicaraan tentang beliau dan kedatangannya! Kita anggap beliau tidak ada dan tidak pernah berkunjung ke negeri kita.

Aksi bisu semacam itu mungkin akan lebih menarik perhatian dan terasa lebih menyakitkan bagi sang Presiden negeri Paman Sam. Kalaupun tidak, aksi diam ini mungkin bisa menjadi modus baru untuk mengekspresikan sikap dan pendapat. Mengapa tidak kita coba?

Foto dukumentasi detikcom

Power Game

Sejak digulirkannya HAK ANGKET CENTURY, saling gertak dan ancam, mewarnai hubungan antara DPR dan Pemerintah. Sebuah tontonan yang tidak elok bagi masyarakat.

Merasa terpojok dan khawatir dengan kerja PANSUS CENTURY, sertai pembangkangan anggota PANSUS dari partai mitra koalisi, Demokrat dan SBY, baik secara langsung atau tidak langsung, melakukan ancaman dan gertakan. Mulai dari issue reshufle kabinet sampai proses hukum terhadap beberapa anggota dewan atau petinggi partai politik. Namun ancaman dan gertakan tersebut terbukti tidak membawa hasil seperti yang mereka harapkan.

Setelah hasil PANSUS CENTURY ditetapkan sebagai keputusan DPR dalam RAPAT PARIPURNA yang alot, panas dan sempat diwarnai kericuhan, dan setelah rekomendasi hukum diserahkan kepada Pemerintah, kini giliran anggota dewan yang menggertak dan mengancam.

Tak puas dengan respom Pemerintah atas rekonendasi tersebut beberapa anggota dewan berwacana untuk menggelar HAK MENYATAKAN PENDAPAT. Juga muncul keinginan beberapa anggota dewan untuk memboikot kedatangan MENKEU SRI MULYANI pada rapat pembahasan revisi anggaran.

Tindakan saling ancam dan gertak ini, tentu bukan hal yang baik untuk dipertontonkan kepada rakyat. Jual beli ancaman dan gertakan yang berpotensi mendorong terjadinya barter perkara antara DPR dan Pemerintah. Hal yang akan merusak tatanan dan penegakkan hukum di Indonesia. Tak heran, meskipun kelihatannya penegakkan hukum terhadap para koruptor dilakukan, dari beberapa hasil survei, Indonesia belum beranjak turun dari peringkat atas NEGARA TERKORUP.

Sudah waktunya DPR dan Pemerintah keluar dari ajang permainan kekuasaan yang menghabiskan terlalu banyak energi kreatif hanya untuk kepentingan pribadi dan partai. Energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyejahterakan rakyat.

Setiap permasalahan yang muncul di antara Pemerintah dan DPR, harus diselesaikan secara profesional dan proporsional, agar tidak melebar kemana-mana.

Bukankah kedua lembaga negara itu, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama, mempunyai banyak tugas yang harus segera diselesaikan? DPR mempunyai tanggungan pembahasan puluhan RUU yang harus segera diselesaikan. Pemerintahpun punya banyak tugas untuk merancang dan melaksanakan banyak program pembangunan.

Lantas apakah mereka akan terus bertarung dalam permainan kekuasaan yang tak berujung pangkal, hanya untuk memuaskan ego masing-masing?