Memanfaatkan “Artalyta”

Mungkin rumah tahanan dapat memanfaatkan keberadaan ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain untuk mendapatkan dana guna menutup kekurangan jatah anggaran dari Pemerintah. Caranya, ijinkan mereka menciptakan sel mewahnya, dengan membayar bea resmi tertentu.

foto detiknewsBOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Dalam sidak beberapa hari yang lalu, TIM PEMBERANTASAN MAFIA HUKUM menemukan sebuah ironi di dalam RUTAN PONDOK BAMBU. Tim menemukan Artalyta Suryani, terpidana kasus penyuapan Jaksa Urip, menempati sebuah sel mewah dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Sementara para narapidana wanita lainnya harus berjubel di dalam sel-sel yang over kapasitas tanpa fasilitas yang memadai, apalagi manusiawi. Dan boleh jadi yang terakhir ini merupakan realitas di sebagian besar rumah tahanan lainnya.

Minimnya kucuran anggaran dari Pemerintah, merupakan alasan yang masuk akal, mengapa RUTAN tidak dapat menyediakan tempat dan fasilitas yang layak dan manusiwi.

Bagi kebanyakan narapidana, mau tak mau mereka harus menerima kenyataan ini. Namun bagi para tahanan elite, seperti ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain, keadaan ini masih sulit diterima. Kenyataan bahwa mereka berada di dalam penjarapun merupakan pukulan yang sangat menyakitkan. Apalagi kalau mereka harus menempati sel yang jauh dari layak dan meninggalkan semua kemewahan yang mereka nikmati sebelumnya.

Tak heran kalau Artalyta dan narapidana elite lainnya, merenovasi selnya sendiri agar lebih layak bagi mereka. Untuk itu mereka bukan hanya harus merogoh kantung sendiri untuk sedikit kemewahan itu. Patut diduga, mereka juga harus membayar sejumlah uang tertentu kepada petugas dan pejabat RUTAN, yang tentu saja akan masuk ke kantong pribadi. Dan praktek suap semacam ini, menurut beberapa orang yang pernah berurusan dengan RUTAN, baik si narapidana atau keluarganya, adalah hal biasa.

Jadi, mengapa penyediaan sel dan fasilitas khusus ini, tidak dijadikan sebagai LAYANAN RESMI RUTAN? Tentu dengan membayar bea tertentu yang masuk ke KAS RUTAN, bukan ke kantong pribadi oknum petugas dan pejabatnya.

Tentu saja pengadaan fasilitas mewah itu tetap menjadi tanggung-jawab si narapidana elite itu. Mereka juga harus membayar bea tertentu, misal Rp 200.000 per hari atau per item fasilitas mewah per hari, yang merupakan bea resmi.

Bayangkan, berapa rupiah yang dapat diperoleh, dan bisa dipergunakan untuk menambal kekurangan anggaran dari Pemerintah. Jika Artalyta harus membayar Rp 200.000 per hari, setahun dia harus membayar Rp 73.000.000. Hasilnya, tinggal dikalikan dengan banyaknya narapidana elite yang bersedia membayar, dan berapa tahun dia mendekam di sana.

Jangan khawatir RUTAN akan kehabisan narapidana elite. Karena jika semua Institusi Penegak Hukum bekerja secara profesional dan pantang disuap, sepertinya akan banyak PENJAHAT ELITE yang dapat mereka jebloskan ke RUTAN!

Sebuah IDE GILA yang layak dicoba?

Susno Duadji Sang Trouble Maker?

Ada yang menganggap SUSNO DUADJI adalah seorang TROUBLE MAKER bagi POLRI. Dulu ucapannya tentang CICAK melawan BUAYA, telah membuat repot institusi tempatnya mengabdi. Sekarang, kedatangannya dalam sidang Antasari Azhar sebagai saksi pihaknya, membuat panas hati kawan buayanya.

BOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Sebenarnya, ada masalah apa dengan kehadiran SD sebagai saksi pada persidangan Antasari? Seperti kata orang yang membelanya, sebagai warga negara tentu beliau berhak menjadi saksi siapapun dan dalam persidangan apapun, jika memang kesaksiannya diperlukan. Namun sebagai anggota atau perwira POLRI yang masih aktif, meskipun sedang di-NONJOB-kan, ada aturan, prosedur dan etika, baik tertulis maupun tidak tertulis, untuk mememenuhi haknya itu. Masalah pelanggaran peraturan dan kode etik inilah yang sedang dipermasalahkan. Meskipun tak tertutup kemungkinan, materi kesaksian SD pada sidang Antasari yang sebenarnya memauat beberapa petinggi POLRI kebakaran jenggot.

Dalam perkara ini, SD sendiri tidak konsisten. Saat diwawancarai media seusai memberikan kesaksian, beliau berujar, bahwa kehadirannya sebagai saksi, adalah dalam kapasitasnya sebagai pribadi. Bukan sebagai seorang Komjen POLRI bernama SUSNO DUADJI. Namun ironisnya beliau hadir dengan seragam lengkap seorang Perwira tinggi POLRI, sementara dalam banyak kesempatan kita lebih sering melihat beliau mengenakan hem dan berdasi.

Padahal kita semua tahu, bahwa seragam itu bukan sekedar pakain penutup badan. Simbol, lambang dan lencana yang menempel padanya bukan sekedar hiasan pemanis. Dalam seragam itu melekat citra organisasi atau institusi pemiliknya. Sebagai contoh, jika ada orang berseragam POLRI yang melakukan tindak amoral, bukan saja dia yang dipermalukan. Namun juga institusi POLRI tempatnya bernaung. Bahkan ketika dia tidak berseragampun, seorang polisi selalu membawa citra institusi.

Itulah sebabnya ada aturan, prosedur dan kode etik, baik yang tertulis maupun tidak, yang mengikat dan mengatur seorang anggota POLRI, mulai dari pangkat terendah sampai yang tertinggi, tanpa ada pengecualian. Hal ini perlu bukan hanya untuk memelihara citra seperti tersebut di atas, namun juga untuk mencegah penyalahgunaan seragam dan semua yang melekat padanya untuk kepentingan pribadi, yang biasanya terkait hal-hal yang tidak baik.

Dalam perkara SUSNO DUADJI ini, marilah kita bersama lebih mencermatinya. Apakah perkara ini hanya persoalan pelanggaran aturan dan kode etik POLRI, atau ada perkara lain yang lebih serius tentang MATERI KESAKSIAN SUSNO DUADJI dalam persidangan Antasari Azhar, yang dapat membahayakan pribadi petinggi dan institusi POLRI. Atau benar kata sebagian pihak, baik di dalam maupun di luar institusi, hal ini hanyalah ulah sang trouble maker yang merasa kecewa dengan perlakuan para petinggi POLRI terhadapnya, paska kisruh CICAK vs BUAYA?! Kita tunggu kelanjutan dan akhirnya.

Apa Pentingnya Gelar Buat Gus Dur?

Apa perlunya gelar PAHLAWAN NASIONAL GUS DUR? Pertanyaan ini kedengarannya sangat provokatif, namun sebenarnya sangat masuk akal. Apa yang lebih dibutuhkan GUS DUR saat ini, selain doa yang tulus.

gambarBOLEHKOMENTAR.COM. Tak lama setelah GUS DUR wafat, berbagai peristiwa heboh mengikutinya. Mulai dari sms gelap yang mengatakan GUS DUR sengaja dibunuh. Berbagai tingkah laku heboh pasa peziarah yang menjurus ke perilaku musyrik. Hingga hiruk pikuk usulan atau desakan berbagai pihak, tentang penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL buat cucu pendiri NU itu.

Dari ketiganya isue penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL, yang lebih banyak menarik minat. Bahkan saat jasad beliau belum dimakamkan, usulan penganugerahan gelar tersebut telah muncul dari berbagai tokoh dan kelompok masyarakat, sampai partai politik. Menjadikan isue ini sebagai materi pembicaraan di berbagai media, teristimewa televisi.

Saya tidak ingin berdebat soal pantas atau tidaknya GUS DUR mendapat anugerah gelar tersebut. Setiap orang atau kelompok pasti punya pendapat sendiri-sendiri. Namun apakah usulan tersebut tidak terlalu cepat? Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang ingin Pemerintah menempuh prosedure jalur cepat. Sementara banyak usulan penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL sudah lama dalam antrian untuk diproses.

Banyak alasan indah yang dapat dikemukakan seputar kepantasan GUS DUR menerima gelar akbar tersebut. Sama banyaknya dengan alasan sebenarnya, para pengusul gelar tersebut, yang mungkin tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan GUS DUR.

Pro kontra seputar masalah ini bisa panjang. Kalau ada yang belum setuju, jangan menganggap mereka tidak menghargai jasa GUS DUR terhadap negeri. Jangan pula serta merta menganggap pihak yang setuju, adalah pihak yang paling menghargai jasa-jasa beliu. Karena mungkin hal ini sudah terlambat. Seharusnya kita menilai positif kontribusi beliau terhadap negara dan bangsa saat beliau masih hidup. Atau ini merupakan bentuk penyesalan dan wujud penebusan dosa?

Sekali lagi, apa urgennya penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL buat GUS DUR, sehingga terkesan terburu-buru dan memaksa? Yang mendesak buat beliau untuk saat ini dan di masa mendatang, adalah doa tulus dari kita, terutama yang seiman. Bukan macam-macam gelar duniawi. Kalaupun perlu, biarlah hal tersebut terjadi sewajarnya tanpa kesan dipaksakan.

Namun meskipun GUS DUR tidak mempunyai kepentingan atas penganugerahan gelar tersebut, banyak individu dan kelompok yang berkepentingan. Dan patut diduga kepentingannya bersifat pribadi atau golongan. Kita jangan cepat terpukau atas maksud baik mereka. Namun kita tetap harus menghargai hak mereka untuk melakukan itu.

Akhir kata, mari kita apresiasi jasa-jasa GUS DUR sewajarnya, dan kita wujudkan, terutama, dalam bentuk doa tulus yang merupakan satu-satunya hal berguna yang dibutuhkan beliau. Satu-satunya penghargaan yang pasti sampai kepada beliau.

Selamat Jalan Gus Dur

foto detiknewsBOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Yang menarik dari kepribadian GUS DUR, beliau sangat konsisten dengan dirinya sendiri. Sejak sebelum, selama dan setelah menjabat sebagai Presiden pertama di era reformasi, tak banyak yang berubah pada diri beliau. Pemikirannya yang berani dan kadang radikal serta sulit dimengerti. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos serta lugas dan sering dibumbui gurauan khas beliau. Penampilan dan perilaku apa adanya, yang kadang santai dan cuek, namun kadang sangat emosional. Semua itu menjadi ciri kas beliau sepanjang masa.

Beliau seperti tak peduli dengan citra atau imagenya di mata masyarakat. Seolah beliau berkata:
ya seperti inilah saya. Mau terima syukur, nggak mau terima ya suka-suka kamu!

Namun semua itu kini hanya tinggal kenangan. Sosok yang sering kita kagumi, namun kadang membuat kita jengkel, telah berpulang ke haribaan Illahi. Pada hari rabu tanggal 30 desember 2009 tepat pukul 18.45, GUS DUR diberitakan meninggal dunia di RS CIPTO MANGUNKUSOMO Jakarta, setelah dirawat beberapa saat karena berbagai penyakit yang dideritannya sejak lama.

SELAMAT JALAN GUS DUR. SEGALA KEBAIKAN YANG TELAH ENGKAU PERSEMBAHKAN KEPADA BANGSA DAN NEGARA, AKAN KAMI KENANG SEPANJANG MASA. DAN SEMUA KEUNIKAN ANDA BIARLAH MENJADI PENANDA UNTUK MENGENANG ANDA.

Pemerintah Jangan Terlalu Protektif

Pemerintah tidak perlu terlalu memproteksi masyarakat, dari isue-isue provokatif dan kontroversial seperti yang tertulis dalam buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS, dengan melarang peredarannya. Hal ini justru menyebabkan masyarakat menjadi terlalu peka terhadap isue-isue semacam itu, sehingga dapat memicu reaksi emosional dan irasional, bahkan tindakan fisik yang tidak perlu.

foto kompasBOLEHKOMENTAR.COM, FOTO KOMPAS. Pro kontra seputar terbitnya buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS karangan George J. Aditjondro merebak paska soft launching buku itu 23 desember silam. Pihak yang paling gusar atas terbitnya buku ini tentu kubu SBY, yang menjadi sasaran tembak sang penulis.

Di alam demokrasi, lontaran isue-isue provokatif semacam itu, atau versi lain dari peristiwa sejarah, hendaknya dianggap sebagai hal yang wajar dan tidak ditanggapi secara emosional. Perbedaan pendapat dan penafsiran hendaknya dihormati oleh semua pihak. Justru hal ini hendaknya dapat memicu serangkaian diskusi intelektual yang sehat untuk menggapai kebenaran.

Jika tidak sependapat dan ingin melakukan bantahan, banyak forum dan media yang bisa digunakan. Jika merasa difitnah atau dihina, ada jalur hukum yang bisa ditempuh, baik perdata maupun pidana.

Jadi tidak perlu Pemerintah melalui Kejaksaan Agung, melakukan pelarangan peredaran buku kontroversial itu atau memberangus hak masyarakat untuk mengungkapkan pendapat yang dijamin Undang Undang.

Masyarakat jangan terlalu diproteksi dari isue-isue provokatif dan kontroversial, bahkan jika menyangkut isue-isue SARA. Upaya protektif yang berlebihan justru dapat menyebabkan masyarakat terlalu peka terhadapnya, yang dapat memicu tindakan emosional dan irasional, yang kadang menjurus ke aksi-aksi fisik yang merusak.

Membicarakan dan bersilang pendapat tentang isue-isue provokatif dan kontroversial semacam itu, hendaknya dapat menjadi bagian yang wajar dalam kehidupan kita di alam demokrasi. Dan satu-satunya tugas pemerintah dalam hal ini, adalah untuk melindungi hak masyarakat untuk berpendapat atau berbeda pendapat, dan menjamin agar hal itu dapat berjalan pada jalur sewajarnya, dan meminimilisasi efek buruknya. Bukan melakukan apa yang biasa dilakukan rezim Orde Baru

Terkait lontaran isue George J. Aditjondro dalam buku berjudul MEMBONGKAR GURITA CIKEAS, serangkaian pembicaraan dan diskusi yang belakangan terjadi, justru sangat positif untuk mengungkap kebenaran. Jika yang ditulis beliau benar dan berdasar fakta yang tak terbantahkan, dia akan dianggap sebagai pahlawan. Namun jika tulisan itu hanya semacam gurauan politik, masyarakat tahu siapa yang layak dianggap sebagai pecundang

Wartawan Juga Manusia

Mencermati kasus perseteruan LUNA MAYA vs WARTAWAN INFOTAINMENT, semakin membuktikan bahwa wartawan, adalah juga manusia. Namun apakah mereka selalu menyadari kenyataan itu saat mengejar berita atau gosip?

BOLEHKOMENTAR.com – FOTO DETIKHOT – WARTAWAN INFOTAINMENT melaporkan LUNA MAYA kepada polisi atas kata-kata kasar artis cantik itu di TWITTER, yang mereka anggap mencemarkan nama baik mereka. Reaksi para kuli disket ini semakin menegaskan bahwa wartawan, termasuk WARTAWAN INFOTAINMENT, juga manusia yang bisa tersinggung dan marah. Namun nampaknya mereka tidak selalu menyadari kenyataan ini saat menggarap subyek, atau malah obyek, beritanya.

Ini bukan pertama kalinya tindakan tidak simpatik WARTAWAN INFOTAINMENT membuat marah KAUM SELEBRITIS dan memicu reaksi emosional yang berlebihan. Tentu kita masih ingat artis sexy SARAH AZHARI yang melemparkan asbak kepada wartawan yang mencerca adiknya, atau pelawak PARTO PATRIO yang menembakkan senjata ke atas untuk membubarkan wartawan yang membuat istri keduanya menangis. Dan masih banyak lagi sikap kurang simpatik WARTAWAN GOSIP yang memicu balasan kurang simpatik pula dari para selebriti yang merasa ditelanjangi dan dipermalukan.

Mungkin para WARTAWAN INFOTAINMENT itu menganggap bahwa memperoleh info pribadi, aib atau gosip apapun tentang diri dan kehidupan selebritis adalah bagian dari hak profesinya sebagai wartawan, dan terpublikasikannya ketiga hal tersebut adalah bagian dari resiko profesi para selebritis itu. Mungkin hal ini bisa dianggap benar. Namun bukankah lebih adil jika para wartawan itu juga bisa menganggap reaksi tidak menyenangkan dari para selebritis terhadap mereka sebagai bagian dari resiko profesi Juga?

Semoga kasus perseteruan antara WARTAWAN INFOTAINMENT vs LUNA MAYA adalah yang terakhir dan bisa diselesaikan secara damai seperti yang sedang mereka upayakan.

Kuncinya hanya satu: saling menyadari bahwa SELEBRITIS dan WARTAWAN INFOTAINMENT adalah sama-sama manusia yang sama-sama punya harga diri dan bisa marah serta tersinggung. Tetapi juga bisa bersinergi saling menguntungkan sesuai profesi masing-masing.

Apakah harapan tersebut di atas sangat berlebihan?

Ibu Prita Adalah Kita

Selamat sore, Kisanak. Apakah Sampeyan masih dapat merasakan, bahwa masalah yang dihadapi IBU PRITA adalah masalah kita juga?

foto detiknewsBOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Sekarang ini kita harus memandang kasus yang dihadapi IBU PRITA, bukan semata-mata masalah beliau dengan RS OMNI INTERNATIONAL. Namun harus kita anggap sebagai masalah antara PASIEN dengan RUMAH SAKIT atau DOKTER pada umumnya.

Kasus antara IBU PRITA dan RS OMNI bukanlah kasus yang pertama terjadi dalam sejarah hubungan antara pasien, dokter dan rumah sakit. Sudah berualang-kali terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari ketidak puasan atas pelayanan, malpraktek sampai penahanan pasien oleh rumah sakit karena belum bisa membayar lunas biaya yang dibebankan kepadanya.

Saya yakin setiap orang yang pernah berinteraksi dengan dokter dan rumah sakit, setidaknya pernah satu kali mengalami hal yang tidak mengenakkan seperti yang dialami IBU PRITA. Bedanya dengan kita, beliau berani menyuarakan ketidaknyamanan itu kepada publik melalui media yang dia punya, ketika penyelesaian dari dokter atau rumah sakit dianggap tidak atau belum memuaskan.

Pada acara TALK SHOW di SCTV tadi malam, mantan Memperindag Fahmi Idris sempat menceritakan pengalaman buruk beliau dengan rumah sakit yang merawat ibunya. Beliau tidak berhasil mendapatkan penjelasan tentang status penyakit dan perawatan sang bunda. Beliau sempat memperbandingkan dengan sebuah rumah sakit di luar negeri saat mengobatkan mertuanya, yang bersedia memberi penjelasan cukup rinci tentang penyakitnya.

Kalau seorang FAHMI IDRIS saja pernah mempunyai pengalaman buruk dengan dokter atau rumah sakit, bagaimana dengan kita rakyat kebanyakan?

Itu mungkin penyebab mengapa kita menjadi lebih mudah merasakan pahit getir pengalaman IBU PRITA dengan RS OMNI. Sehingga hati kita lebih mudah tergerak untuk bersimpati dan mendukung beliau. Karena kita menganggap, masalah IBU PRITA adalah masalah kita juga. Atau masalah yang bisa saja menimpa kita, keluarga kita atau teman kita, di kemudian hari.

KARENA IBU PRITA ADALAH KITA-KITA JUGA! DUKUNG IBU PRITA DENGAN BERBAGAI CARA!

4

Demo Rusuh Dirancang Rusuh Dari Awal

Selamat pagi, Kisanak! Apakah Sampeyan percaya jika ada orang yang menduga demonstrasi yang berakhir rusuh, memang dirancang rusuh dari awal?

foto detiknewsBOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Meskipun dibayang-bayangi kemungkinan adanya penunggangan oleh pihak tertentu sehingga berpotensi terjadi kerusuhan, seperti sinyalemen Presiden SBY sebelumnya, aksi demonstrasi memperingati HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA di Jakarta berlangsung relatif tertib dan aman. Kerusuhan justru terjadi di beberapa kota lain, seperti misalnya di Makasar, ketika massa mahasiswa merusak beberapa fasilitas umum, mobil aparat dan sebuah restoran waralaba asing.

Tidak terjadinya demo anarki di ibu kota negara ini, boleh jadi karena adanya langkah-langkah antisipasi oleh aparat setelah adanya peringatan dari Presiden. Lebih penting lagi adalah langkah antisipasi mandiri dari penggerak demonstrasi dan tokoh-tokoh yang terlibat, yang tidak ingin AKSI CANTIK mereka dikotori oleh tindak anarki para pecundang.

Sejak diluncurkannya reformasi sebenarnya aparat keamanan atau polisi, dalam batas-batas tertentu, lebih permisif terhadap aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat dan mahasiswa. Seperti yang kita lihat di televisi, dalam beberapa kejadian polisi nampak membiarkan pembakaran gambar atau foto pejabat negara, bahkan foto Presiden yang dulu bisa berakhir di penjara. Aparat biasanya baru bertindak jika demonstran memaksa masuk ke wilayah pengamanan aparat atau mengganggu ketertiban umum dengan pemblokiran jalan, membakar ban bekas dan beberapa aksi tidak simpatik lainnya.

Demo yang berujung kerusuhan seringkali justru terjadi karena sikap arogan pendemo, yang patut diduga merupakan BAGIAN DARI RENCANA AWAL AKSI tersebut. Mereka tahu mengerahkan lebih banyak massa melebihi kemampuan untuk mengendalikannya sangat riskan. Mereka tahu aparat pasti akan teguh menjaga wilayah pengamanan mereka. Mereka juga tahu aparat akan menertibkan pawai yang memenuhi seluruh badan jalan, lebih-lebih jika dengan sengaja memblokirnya. Namun mengapa mereka tetap melakukan provokasi itu?

Mungkin mereka ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa bukan hanya aparat keamanan atau polisi yang bisa bertindak arogan. MEREKAPUN BISA!

Berteriak Sekali Lalu Mati!

Selamat malam, Saudaraku! Berikut ini hanya cerita rekaan, dan semoga tak pernah terjadi.

BOLEHKOMENTAR.COM. Seorang kuli bangunan terjatuh dari perancah dan terluka sangat parah. Kawan-kawannya segera membawa korban ke rumah sakit dengan menggunakan mobil proyek bak terbuka.

Mobil melaju dengan cepat, namun kemudian melambat dan akhirnya berhenti total. Mereka terjebak kemacetan dan tidak bisa bergerak sama sekali. Menurut pengendara motor yang berhasil meloloskan diri, jalan terblokir oleh massa yang sedang berdemonstrasi. Dan itu benar, karena mereka segera melihat asap hitam yang membumbung tinggi ke udara. Asap yang berasal dari ban bekas yang dibakar.

Kawan-kawan kuli yang mengantarkan korban menjadi panik berat. Mereka harus segera tiba di rumah sakit, agar kawan mereka masih mempunyai peluang untuk diselamatkan. Mereka mengumpat para demonstran yang sedang bersenang-senang di depan sana.

Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Entah mendapat kekuatan dari mana, si kuli yang terluka sangat parah itu membuka mata dan berkata lantang: “Tenang kawan-kawan… jangan mengumpat mereka… mereka sedang memperjuangkan nasib rakyat… nasib kita semua… HIDUP DEMONSTRASI! HIDUP MAHASISWA!”

LALU MATI!

Mau Apa Kita Di Hari Anti Korupsi Sedunia?

GambarSelamat pagi, Saudaraku! Apa yang akan kamu lakukan pada Hari Anti Korupsi Sedunia tahun ini? Ikut demo?

BOLEHKOMENTAR.COM. Mencermati dinamika masyarakat menjelang peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia hari ini, banyak hal yang ingin aku ungkap dan perbincangkan . Namun tak kulakukan. karena takut akan kehilangan fokus. Sebagai gantinya, aku persembahkan pamflet di bawah ini.

gambargambargambargambargambar