Memanfaatkan “Artalyta”
|
Mungkin rumah tahanan dapat memanfaatkan keberadaan ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain untuk mendapatkan dana guna menutup kekurangan jatah anggaran dari Pemerintah. Caranya, ijinkan mereka menciptakan sel mewahnya, dengan membayar bea resmi tertentu.
Minimnya kucuran anggaran dari Pemerintah, merupakan alasan yang masuk akal, mengapa RUTAN tidak dapat menyediakan tempat dan fasilitas yang layak dan manusiwi. Bagi kebanyakan narapidana, mau tak mau mereka harus menerima kenyataan ini. Namun bagi para tahanan elite, seperti ARTALYTA dan ARTALYTA-ARTALYTA lain, keadaan ini masih sulit diterima. Kenyataan bahwa mereka berada di dalam penjarapun merupakan pukulan yang sangat menyakitkan. Apalagi kalau mereka harus menempati sel yang jauh dari layak dan meninggalkan semua kemewahan yang mereka nikmati sebelumnya. Tak heran kalau Artalyta dan narapidana elite lainnya, merenovasi selnya sendiri agar lebih layak bagi mereka. Untuk itu mereka bukan hanya harus merogoh kantung sendiri untuk sedikit kemewahan itu. Patut diduga, mereka juga harus membayar sejumlah uang tertentu kepada petugas dan pejabat RUTAN, yang tentu saja akan masuk ke kantong pribadi. Dan praktek suap semacam ini, menurut beberapa orang yang pernah berurusan dengan RUTAN, baik si narapidana atau keluarganya, adalah hal biasa. Jadi, mengapa penyediaan sel dan fasilitas khusus ini, tidak dijadikan sebagai LAYANAN RESMI RUTAN? Tentu dengan membayar bea tertentu yang masuk ke KAS RUTAN, bukan ke kantong pribadi oknum petugas dan pejabatnya. Tentu saja pengadaan fasilitas mewah itu tetap menjadi tanggung-jawab si narapidana elite itu. Mereka juga harus membayar bea tertentu, misal Rp 200.000 per hari atau per item fasilitas mewah per hari, yang merupakan bea resmi. Bayangkan, berapa rupiah yang dapat diperoleh, dan bisa dipergunakan untuk menambal kekurangan anggaran dari Pemerintah. Jika Artalyta harus membayar Rp 200.000 per hari, setahun dia harus membayar Rp 73.000.000. Hasilnya, tinggal dikalikan dengan banyaknya narapidana elite yang bersedia membayar, dan berapa tahun dia mendekam di sana. Jangan khawatir RUTAN akan kehabisan narapidana elite. Karena jika semua Institusi Penegak Hukum bekerja secara profesional dan pantang disuap, sepertinya akan banyak PENJAHAT ELITE yang dapat mereka jebloskan ke RUTAN! Sebuah IDE GILA yang layak dicoba? |
BOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Dalam sidak beberapa hari yang lalu, TIM PEMBERANTASAN MAFIA HUKUM menemukan sebuah ironi di dalam RUTAN PONDOK BAMBU. Tim menemukan Artalyta Suryani, terpidana kasus penyuapan Jaksa Urip, menempati sebuah sel mewah dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Sementara para narapidana wanita lainnya harus berjubel di dalam sel-sel yang over kapasitas tanpa fasilitas yang memadai, apalagi manusiawi. Dan boleh jadi yang terakhir ini merupakan realitas di sebagian besar rumah tahanan lainnya.
BOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Sebenarnya, ada masalah apa dengan kehadiran SD sebagai saksi pada persidangan Antasari? Seperti kata orang yang membelanya, sebagai warga negara tentu beliau berhak menjadi saksi siapapun dan dalam persidangan apapun, jika memang kesaksiannya diperlukan. Namun sebagai anggota atau perwira POLRI yang masih aktif, meskipun sedang di-NONJOB-kan, ada aturan, prosedur dan etika, baik tertulis maupun tidak tertulis, untuk mememenuhi haknya itu. Masalah pelanggaran peraturan dan kode etik inilah yang sedang dipermasalahkan. Meskipun tak tertutup kemungkinan, materi kesaksian SD pada sidang Antasari yang sebenarnya memauat beberapa petinggi POLRI kebakaran jenggot.
BOLEHKOMENTAR.COM. Tak lama setelah GUS DUR wafat, berbagai peristiwa heboh mengikutinya. Mulai dari sms gelap yang mengatakan GUS DUR sengaja dibunuh. Berbagai tingkah laku heboh pasa peziarah yang menjurus ke perilaku musyrik. Hingga hiruk pikuk usulan atau desakan berbagai pihak, tentang penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL buat cucu pendiri NU itu.
BOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Yang menarik dari kepribadian GUS DUR, beliau sangat konsisten dengan dirinya sendiri. Sejak sebelum, selama dan setelah menjabat sebagai Presiden pertama di era reformasi, tak banyak yang berubah pada diri beliau. Pemikirannya yang berani dan kadang radikal serta sulit dimengerti. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos serta lugas dan sering dibumbui gurauan khas beliau. Penampilan dan perilaku apa adanya, yang kadang santai dan cuek, namun kadang sangat emosional. Semua itu menjadi ciri kas beliau sepanjang masa.
BOLEHKOMENTAR.COM, FOTO KOMPAS. Pro kontra seputar terbitnya buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS karangan George J. Aditjondro merebak paska soft launching buku itu 23 desember silam. Pihak yang paling gusar atas terbitnya buku ini tentu kubu SBY, yang menjadi sasaran tembak sang penulis.
BOLEHKOMENTAR.com – FOTO DETIKHOT – WARTAWAN INFOTAINMENT melaporkan LUNA MAYA kepada polisi atas kata-kata kasar artis cantik itu di TWITTER, yang mereka anggap mencemarkan nama baik mereka. Reaksi para kuli disket ini semakin menegaskan bahwa wartawan, termasuk WARTAWAN INFOTAINMENT, juga manusia yang bisa tersinggung dan marah. Namun nampaknya mereka tidak selalu menyadari kenyataan ini saat menggarap subyek, atau malah obyek, beritanya.
BOLEHKOMENTAR.COM-FOTO DETIKNEWS. Sekarang ini kita harus memandang kasus yang dihadapi IBU PRITA, bukan semata-mata masalah beliau dengan RS OMNI INTERNATIONAL. Namun harus kita anggap sebagai masalah antara PASIEN dengan RUMAH SAKIT atau DOKTER pada umumnya.
BOLEHKOMENTAR.COM, FOTO DETIKNEWS. Meskipun dibayang-bayangi kemungkinan adanya penunggangan oleh pihak tertentu sehingga berpotensi terjadi kerusuhan, seperti sinyalemen Presiden SBY sebelumnya, aksi demonstrasi memperingati HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA di Jakarta berlangsung relatif tertib dan aman. Kerusuhan justru terjadi di beberapa kota lain, seperti misalnya di Makasar, ketika massa mahasiswa merusak beberapa fasilitas umum, mobil aparat dan sebuah restoran waralaba asing.




